Rabu, 25 Desember 2013

Realitas Fiksi


 “Aku malas kuliah, aku ingin menjadi penulis.”
“Ngarang.”
“Iya, jadi pengarang”, tutup Mili.

Dialog di atas bukanlah dialog pada realitas kenyataan, namun hanya dialog film Mili dan Nathan, film yang saya tonton siang ini (25/12).  Mili dan Nathan, dua tokoh yang membina hubungan kasih (baca pacaran) terlibat pada perbincangan yang serius, menyadari tak lama lagi mereka berdua menyelesaikan studinya di SMA. Nathan, anak laki-laki tumpuan keluarga, ia harapan ibu dan adik perempuannya. Ia berencana untuk melanjutkan studinya ke perguruan tinggi ITN Jakarta. Sedangkan Mili, berniat untuk menjadi penulis.

Waktu pun berjalan, Nathan melanjutkan studi di ITN Jakarta. Sementara Mili tetap di Bandung, melanjutkan studi di jurusan tata busana (desain) untuk beberapa waktu. Kemudian, atas restu orangtuanya, Mili memilih untuk menghentikan studinya dan menjadi penulis. Beberapa tahun kemudian, Nathan berhasil menyelesaikan studinya dan Mili berhasil menjadi penulis terkenal. Buku Mili laku keras di pasaran.

Tokoh Mili hanyalah tokoh yang hidup dalam realitas fiksi. Namun, padanya seolah diberi tugas untuk meyakinkan penonton. Ia mengukuhkan jika untuk menjadi penulis tak perlu kuliah. Dalam posisi ini, Mili memiliki kekuatan untuk memuluskan langkahnya. Ruang gerak Mili menjadi tak terbatas, ia pula juga tak terhalang waktu untuk mengekplor lingkungan di sekitar. Dengan peluang yang banyak inilah, maka Mili mampu memaksimalkan inspirasi dan menuliskannya. Inilah kebenaran yang tersimpan dalam realitas fiksi. Kebenaran dalam realitas fiksi ini kemudian menjadi samar dan menjadi relalitas yang baru. Realitas baru itu berubah menjadi realitas yang terlihat nyata. Benar adanya, memang ada penulis yang memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah kemudian menjadi penulis. Sebut saja Muhidin M. Dahlan atau biasa yang disebut Gusmuh. Gusmuh sendiri sempat melanjutkan studi di dua perguruan tinggi, selanjutnya memutuskan untuk berhenti dan menjadi penulis. Ini lah yang saya maksud, realitas fiksi menjadi kabur dan dipahami sebagai kenyataan. Karena adanya kemiripan antara realitas fiksi dan realitas kenyataan, maka keduanya bertabrakan.

Mili tidak ingin kuliah, ia ingin menjadi penulis, alhasil ia menjadi penulis terkenal. Tak terbesit sedikit keinginan pun untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Malah jalan yang ia pilih membuatnya menjadi terkenal. Bagaiamana dengan Gusmus, apakah ia berhenti kuliah semata-mata hanya karena ingin menjadi penulis? Menurut hemat saya tidak. Saya tidak melihat hal itu sebab Gusmuh sendiri tidak hanya sekali masuk ke perguruan tinggi, melainkan dua kali. Ini berarti ada keniatan. Saya rasa pergulatan inteletual Gusmus lah yang membuatnya menghentikan studinya. Jika demikian, tidak ada sangkut pautnya antara niatan tidak kuliah dan berhasil menjadi penulis.

Tidak ada jalan singkat untuk berhasil menjadi penulis, meskipun seseorang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Menjadi penulis pun melewati jalan panjang, Gusmus sendiri harus jatuh bangun, dihujat sana-sini hingga kemudian tulisannya dikenal. Sedangkan Mili tak menunjukan hal itu, semua berlangsung instan. Tak ditunjukan pula proses kreatifnya. Pembaca, penonton, penikmat fiksi mesti cermat. Fiksi tetaplah fiksi, meskipun terdapat kebenaran pada realitas fiksi. Jangan sampai ia memangkas logika dan menjebak kita dalam realitas semu. 

Senin, 16 Desember 2013

Waktu Ialah Ingatan


Bersyukur, kakak saya, Afika Febriyani sudah melahirkan anak. Perempuan jenis kelaminnya. Ini berarti lengkap sudah kehidupan rumah tangganya sejak kakak memutuskan untuk berkeluarga. Ini berarti juga, rasa sedih karena kehilangan anak laki-laki telah terobati dengan datangnya si bayi. Kakak memang sebelumnya telah memiliki anak, namun, anak itu meninggal karena keluar tidak pada waktunya.

Kakak memutuskan untuk hidup berkeluarga di tempat asal suaminya, di Boja. Setelah mendengar kabar kelahiran saya langsung ke Boja untuk melihat si bayi. Ketika di sana, saya pandangi si bayi, lucunya bukan main. Si bayi hanya bisa menguap dan mengolet. Kulitnya masih merah. Matanya pun belum terbuka lebar.

Kelahiran si bayi menandai bahwa saya sudah resmi menjadi paman. Bapak dan ibu juga resmi menjadi kakek dan nenek. Tanpa terasa, waktu telah berjalan dengan sangat cepat. Dan waktu telah menyita memori dari tiap-tiap ingatan yang berharga. Teringat, dulu saat saya dan kakak masih kecil. Kami berdua sering bermain bersama. Kadang kami juga bertengkar. Saat di sekolah kakak juga sering membela jika saya bertengkar dengan orang lain. Kakak selalu ada jika saya sedang dalam masalah. Itu dahulu. Kini, ia telah berkeluarga. Dan dalam hati, saya rindu masa-masa itu. Bahkan sangat rindu.

Saat saya pandangi si bayi dalam-dalam saya tersadar. Kami bedua telah dewasa. Kami akan mengarungi hidup kita masing-masing. Ya, si bayi juga mengingatkan, jika tak lama lagi saya juga harus hidup dengan keluarga saya sendiri. 

Putri


Setiap hari hanya bisa mengeluh. Saya hanya bisa begitu. Terkadang, saya berpikir, kenapa si A bisa beruntung, si B apa lagi, dan si C  kehidupannya sempurna. Sedangkan saya? Terus-menerus memupuk rasa kecewa didera kemiskinan dan yang terjadi perasaan iri semakin lama semakin tajam.

Apa yang terjadi dengan saya? Apakah efek dari kelas lapisan bawah? Dan berpikir hanya kelas bawah yang selalu punya masalah. Bagaimana dengan lapisan atas? Apakah hanya tinggal landas tanpa masalah?
Peristiwa semalam telah membuka pikiran dan perasaan saya. Kemudian mengubah paradigma saya, ternyata kelas bawah dan atas sama saja, punya masalah!

Namanya Putri, teman dari SMA yang masih bertahan sampai sekarang. Hidupnya serba kecukupan. Tidak ada yang kurang. Sehari-hari pergi menggunakan mobil. Handphone selalu ganti sesuai dengan model terbaru. Busana yang ia gunakan selalu berganti. Tidak seperti saya, yang hanya model-model itu saja.

Putri, jujur, orang yang menyebalkan. Menjadi temannya mungkin bukan urusan yang mudah. Kebanyakan orang yang berada di lapisan atas, untuk nongkrong rata-rata mesti di kafe. Kegiatan sehari-hari hanya jalan-jalan. Untuk diajak berpikir, diskusi, memecahkan suata masalah bukanlah pekerjaannya. Dia hanya berpikir, penting hidup enak. Belum lagi, sikap arogan dan semena-mena yang bikin orang tambah muak. Tapi itu uniknya, saya suka berkumpul dengan orang-orang menyebalkan.
---
“Lho, orang yang kerja itu gajinya segitu to dek? Lah, gaji orang yang jungkir balik aja, sama uang jajanku lebih besar uang jajanku sebulan”, terang Putri saat menirukan percakapan dengan mamahnya.

Saya hanya bisa senyum. Itu adalah hal yang biasa. Kalau orang yang tidak mengenal Putri, mungkin terkagum-kagum. Cerita-ceritanya bisa membuat orang terbang tinggi melayang. Terbawa angan-angan semu, membayangkan bahwa hidup sedemikian mudah.

Namun, malam itu arah pembicaraan kami berubah ketika saya bertanya “Kakakmu nggak ada yang kerja luar kota Put?”

Dia menjawab “ada”, tetapi katanya sudah kembali ke Semarang karena orangtuanya meminta untuk kembali. Lanjutnya, mungkin memang kakaknya terbiasa dengan hidup nyaman, enak, mapan, jadi ujung-ujungnya ya kembali ke orang tua.

Tidak ada anggota keluarga Putri yang keluar dari Semarang. Semuanya ada di sini, di Semarang. Muka Putri berubah menjadi datar. Ia sangat menyayangkan, “Ya gitu, ujung-ujungnya minta. Kami sudah terbiasa hidup enak”. Putri seperti menolak, ia seakan ingin pergi dari zona nyaman itu, namun ia sendiri terjebak dan terkurung.

Putri menjadi sedih. Ia berada di zona nyaman, namun dalam zona itu sendiri menyimpan ketidaknyamanan. Ia dininabobokan oleh keadaan. Ingin beranjak, tapi dilematis. Dicukupi kebutuhannya, tapi harus menjadi anak kuliahan yang tidak ada bedanya dengan anak kelas lima SD. Harus 'nurut' pada sikap kaku orang tua. Seperti contoh, di usianya yang telah dewasa, ia ingin pergi hingga larut malam seperti kawan lainnya, namun harus kembali sebelum jam sembilan malam. Tidak boleh ini itu, serba di larang.

Putri sangat ingin pergi, tapi ia seakan takut dicap sebagai anak durhaka jikalau orangtuanya tak memberikan izin. Ia ingin pergi bekerja di luar kota kelak, namun ia sendiri sadar bahwa ia lemah. Putri punya impian besar. Ya, impian untuk keluar dari zona nyaman itu sendiri. Ia ingin bebas.
Malam itu saya tersadar. Benar-benar tersadar. Karena setiap orang punya masalah. Putri memberikan pelajaran bahwa setiap orang harus memerdekakan dirinya sendiri.

Senin, 09 Desember 2013

Telah Berpulang


“Turut berduka, maha berduka cinta” balas saya ketika mendapat pesan singkat dari seorang kawan yang memberi kabar kalau Prof. Soedjarwo atau biasa dipanggil Prof. Djarwo meninggal dunia. Memang tidak terlalu mengagetkan karena sebelumnya saya telah mendapatkan kabar jika ia sudah sakit. Ditambah usianya yang memang tak lagi muda. Namun, saya heran –mungkin cukup berlebihan— kepergiannya seolah mengiringi kepergian sosok Nelson Mandela. Kepergian sosok yang anti apartheid belum lama ini. Prof. Djarwo memang tidak terkenal seperti Mandela. Ia hanyalah seorang sosok yang sangat sederhana. Karena kesederhanaannya itu, ia memberikan arti bagi orang yang mengenalnya. Baik keluarganya, sahabatnya, juga murid-muridnya termasuk saya.

Mendengar kabar itu, saya bergegas pergi ke makam. Dengan harapan, bisa melihatnya untuk terakhir kali. Juga mengiringi kepulangannya ke peristirahatan yang abadi sebagai tanda hormat dan bakti kepada mendiang.

Awan gelap mengiringi prosesi pemakaman waktu itu (8/12), sesekali diselingi oleh hujan rintik. Pemakaman berlangsung sendu, para pelayat yang bisa dikatakan tidak terlalu banyak merasa kehilangan sosok Prof Djarwo. Itu terlihat dari raut muka mereka. Saya pun demikian, terlebih Prof. Djarwo ialah sosok yang mencintai pendidikan. Ya, bahkan sampai akhir hayatnya. Hingga peristirahatan terakhirnya pun adalah tempat di mana ia mengajar, pemakaman Universitas Diponegoro.

Selamat jalan Prof.

Sabtu, 07 Desember 2013

Media Hari Ini



Dalam beberapa ujian untuk menjadi karyawan di industri media beberapa  waktu lalu, saya kerap kali dihadapakan pada pertanyaan “Bagaimana media saat ini?”. Sayangnya, pertanyaan yang harusnya dijawab dengan panjang lebar ini, malah muncul di form pendaftaran pada kolom dengan lebar  tidak lebih dari 10cm. Seharusnya, pertanyaan tersebut dimunculkan pada lembar soal ujian, dengan jumlah lembar jawaban yang banyak, guna mencari tahu bagaimana pemahaman pelamar tentang ‘media’ itu sendiri.

Untuk pertanyaan itu, saya sendiri belum cukup ahli untuk menjawabnya. Sesuai dengan kapasitas saya, mungkin saya akan melabeli argumen ini sebatas pada logika dan pemahaman. Tidak secara teoretis akademis.

Berkaitan dengan media, saya teringat dengan sosok Alvin Toffler dalam bukunya The Third Wave atau yang diterjemahkan menjadi Gelombang ke Tiga. Buku ini membahas perkembangan zaman, dari masa agrikultur (gelombang pertama), era industri (gelombang ke dua), sampai pada masa yang kita pijak saaat ini, masa komunikasi (gelombang ke tiga). Menurutnya, gelombang ke tiga yang secara langsung merupakan hasil dari perkembangan teknologi yang mengakibatkan manusia semakin cerdas. Ia beranggapan dengan perkembangan teknologi –Alvin Toffler merujuk pada komputer—membantu manusia mengembangkan ingatan kolektif manusia. Hal tersebut masuk akal karena, manusia sendiri memiliki ingatan yang terbatas. Dengan adanya komputer, ingatan tersebut mampu kembali disegarkan sebab komputer mampu menyimpan banyak data.

Jika dihubungkan dengan media saat ini—sebut saja internet dan beragam program yang ditawarkan—maka manusia pun harusnya semakin cerdas. Dengan asumsi bahwa internet mampu menyediakan data yang dibutuhkan manusia. Terlebih untuk saat ini. Informasi-informasi baru bisa muncul secepat kilat. Tidak heran jika kita sebuah media pun menggunakan nama detik untuk mengukuhkan bahwa media tersebut mampu menyediakan berita dalam hitungan detik. Apabila informasi yang muncul begitu cepat, sudah wajar kalau kita pasti akan dibuat geleng-geleng kepala, apalagi dengan membayangkan bagaimana kinerja, berapa jumlah wartawannya, terus bagaimana si wartawan dihadapkan dengan deadline untuk menyediakan secepat kilat? Dengan perasaan kagum dan terpukau, kita akan bilang “Wartawan hebat!”

Bagaimana dengan akurasi? Apabila saya dihadapkan pada pertanyaan demikian, jelas saya akan terdiam sejenak.  Saya harus mencari waktu untuk berpikir.  Lalu dengan senyum kaku saya akan menjawab “Tunggu dulu, mari diskusikan”. Sebagai alumni aktivis pers mahasiswa setidaknya saya mengerti bahwa ‘data’ merupakan bagian terpenting dari penulisan. Apabila seorang wartawan dituntut untuk menulis berita dengan cepat, bagaimana mungkin si wartawan mampu mencari data? Tidak hanya itu, bahkan untuk mewancarai informan satu, informan dua, informan tiga dan seterusnya memerlukan waktu tidak sedikit. Belum lagi checking, double checking, apalagi triple checking.  Rasanya, ini seperti banyolan seorang teman yang berkomentar tentang wartawan kilat dan berkata “mungkin pesawat yang belum jatuh, ditulis jatuh”. Tentu hal tersebut adalah hal yang lucu. Akurasi dalam berita ialah hal yang penting. Lagi-lagi saya ingat, di pengatar redaksi majalah Hayamwuruk dengan tema Jejak Kiri di Semarang bahwa William Shawn dari The New York Time sampai membentuk tim pengecek fakta (fact checking)  agar medianya tidak menuliskan berita yang abal-abal.

Sayangnya, masalah tidak berhenti hanya di situ. Masalah pun terus bermunculan. Di era internet, muncul sebuah trend jurnalisme yang dikenal sebagai jurnalisme warga atau citizen jurnalism. Jurnalisme warga menganggap bahwa setiap orang adalah seorang reporter. Asal mereka menganggap apa yang ditulis ialah sebuah berita, berarti itu diyakini sebagai berita. Sementara itu, saya sendiri pun ragu apakah setiap orang bisa menuliskan berita. Jangan-jangan yang mereka tulis hanya sebatas opini, asumsi, bahkan gosip. Titik ini lah yang mesti diwaspadai, karena yang menulis ialah  “seorang warga yang tak memiliki status” maka kita pun sulit menilai apakah bisa dipertanggungjawabkan atau tidak. Di tambah, jumlah tulisan yang banyak membuat mana yang berita, mana yang opini, dan gosip menjadi bercampur aduk tidak karuan karena sulit dikontrol. Mungkin, untuk orang yang memahami tidak masalah, bagaimana dengan orang awam?

Kekhawatiran saya pun bertambah, mengingat semakin cepatnya informasi yang diterima, semakin cepat pula berita yang diserap dan berita yang telah lalu cepat menjadi basi. Ini tentu sangat menakutkan karena berita jarang dibaca ulang, namun sudah terlanjur terserap. Saya hanya berharap, lebih baik bijak saat memilih berita, menimbang darimana sumber informasi itu didapatkan.

Terus Berjuang


Jakarta bukan lah tempat yang ramah. Tentu, sebagian orang tahu dan memahami itu. Terlebih lagi untuk para pendatang. Di Jakarta, setiap orang sibuk untuk bekerja. Mereka sangat serius, terlihat dari raut mukanya yang kerap kali mengerut. Jika pun mereka tersenyum, mungkin karena mereka berusaha untuk menghibur dirinya sendiri. Atau bisa saja, mereka hanyalah seorang selles yang menjual keramahan pada penjual.

Ya, sekali lagi saya katakan, Jakarta bukan lah kota yang ramah, kota itu benar-benar sibuk. Jarang sekali terlihat jalan-jalan yang lengang, karena macet adalah sesuatu yang dpisahkan dari kota ini. Mereka, penduduk Jakarta, melakukan berbagai aktivitas. Bekerja, kuliah, mencuri, merampok, dan lain sebagainya. Mereka hilir mudik, ke sana-ke mari, riwa-riwi di jalan-jalan Jakarta. Bukan riwa-riwi, karena mereka menghabiskan kegiatannya berhenti di satu titik yakni jalan raya. Bagaimana mungkin mereka akan ke sana- ke mari jika jalan disesaki oleh banyak kendaraan?

Jangan mengharapkan belas kasihan dengan orang Jakarta. Karena mereka lebih memilih untuk mengasihi diri mereka sendiri. Saya melihatnya secara langsung. Saat berada di halte bus Trans Jakarta, seorang ibu-ibu didorong penumpang lain yang kebanyakan masih muda. Sampai si ibu berteriak karena kesakitan, namun tak ada yang menggubrisnya. Banyak dari para penumpang itu memilih untuk menyelamatkan diri supaya sampai di rumah atau kost lebih cepat. Sebab, waktu adalah harga yang mahal. Menjaga diri sendiri lebih penting daripada mengkhawatirkan orang lain.

Namun, Jakarta ialah kota yang menawarkan banyak mimpi dan harapan. Meskipun sulit sekali untuk mewujudkan mimpi tersebut. Ini adalah stigma umum bahwa Jakarta kerap kali menawarkan pekerjaan yang laik dengan upah yang tinggi. Saya akan menjadi sangat munafik jika menampik stigma tersebut. Karena saya sendiri tergiur dengannya. Akan tetapi, saya tidak akan berpikir sependek itu. Bukan berarti yang berhubungan dengan Jakarta ialah sesuatu yang sifatnya material. Seperti yang saya katakan tadi, Jakarta bukanlah kota yang ramah, tapi bisa dikatakan kejam. Meski begitu, bukankah dari ketidakramahan Jakarta, saya bisa mendapatkan keindahan? Keindahan berupa ilmu yang saya sebut sebagai ilmu tentang kehidupan. Itu lah yang ingin saya cari. Jadi, jangan heran, jika saya sangat ambisius untuk hidup di kota ini.

Dua motif itu lah sebagai motor penggerak saya saat ini, pekerjaan dan ilmu kehidupan. Sehingga, banyak cara  telah saya wujudkan. Mencari pekerjaan sampai pada empat kali ujian di industri media, meskipun sampai sekarang belum ada hasil. Rasa pesimis tentu menjadi penghias dari usaha saya ini. Kegagalan yang datang secara bertubi-tubi. Ditambah, keadaan keuangan yang memburuk karena banyak biaya yang keluarga keluarkan untuk membiayai perjalanan dan hidup saya di Jakarta. Tak jarang, orangtua sampai buka lubang, tutup lubang, dan buka lubang kembali. Orang tua sempat menyarankan agar sementara mencari pekerjaan di Semarang. Dengan banyak pertimbangan, saya menolak dalam hati, dengan alasan karena resign tidaklah gratis. Saya tetap keras hati untuk berusaha mengejar Jakarta. Menurut saya, bagaimanapun, pekerjaan di tempat yang tidak sepenuh hati disukai hanya akan melahirkan kesia-siaan.

Rasa pesimis yang semakin mengakar tidak serta merta hanya membawa saya pada perasaan bersalah. Jauh dari itu. Perasaan itu menyadarkan saya, bahwa saya hanyalah makhluk kecil di hadapan Tuhan. Makhluk yang sebelumnya mencari kebenaran dengan mengkritisi dogma-dogma Tuhan, jauh dari Tuhan, seolah batin saya melakukan counter attack. Saya seolah-olah menjadi makhluk yang paling dekat dengan Tuhan. Makhluk yang mengharap belas kasihan dari Tuhan. Senantiasa berdoa dan sembahyang agar keinginan segera terkabul. Semoga saya bukan menjadi bagian manusia yang oportunis. Amin.