“Aku malas kuliah,
aku ingin menjadi penulis.”
“Ngarang.”
“Iya, jadi pengarang”, tutup Mili.
Dialog di atas bukanlah dialog pada realitas kenyataan,
namun hanya dialog film Mili dan Nathan,
film yang saya tonton siang ini (25/12). Mili dan Nathan, dua tokoh yang membina
hubungan kasih (baca pacaran) terlibat pada perbincangan yang serius, menyadari
tak lama lagi mereka berdua menyelesaikan studinya di SMA. Nathan, anak
laki-laki tumpuan keluarga, ia harapan ibu dan adik perempuannya. Ia berencana
untuk melanjutkan studinya ke perguruan tinggi ITN Jakarta. Sedangkan Mili, berniat
untuk menjadi penulis.
Waktu pun berjalan, Nathan melanjutkan studi di ITN Jakarta.
Sementara Mili tetap di Bandung, melanjutkan studi di jurusan tata busana
(desain) untuk beberapa waktu. Kemudian, atas restu orangtuanya, Mili memilih
untuk menghentikan studinya dan menjadi penulis. Beberapa tahun kemudian,
Nathan berhasil menyelesaikan studinya dan Mili berhasil menjadi penulis
terkenal. Buku Mili laku keras di pasaran.
Tokoh Mili hanyalah tokoh yang hidup dalam realitas fiksi. Namun,
padanya seolah diberi tugas untuk meyakinkan penonton. Ia mengukuhkan jika
untuk menjadi penulis tak perlu kuliah. Dalam posisi ini, Mili memiliki kekuatan
untuk memuluskan langkahnya. Ruang gerak Mili menjadi tak terbatas, ia pula
juga tak terhalang waktu untuk mengekplor lingkungan di sekitar. Dengan peluang
yang banyak inilah, maka Mili mampu memaksimalkan inspirasi dan menuliskannya. Inilah
kebenaran yang tersimpan dalam realitas fiksi. Kebenaran dalam realitas fiksi
ini kemudian menjadi samar dan menjadi relalitas yang baru. Realitas baru itu
berubah menjadi realitas yang terlihat nyata. Benar adanya, memang ada penulis
yang memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah kemudian menjadi penulis. Sebut saja
Muhidin M. Dahlan atau biasa yang disebut Gusmuh. Gusmuh sendiri sempat
melanjutkan studi di dua perguruan tinggi, selanjutnya memutuskan untuk berhenti
dan menjadi penulis. Ini lah yang saya maksud, realitas fiksi menjadi kabur dan
dipahami sebagai kenyataan. Karena adanya kemiripan antara realitas fiksi dan realitas
kenyataan, maka keduanya bertabrakan.
Mili tidak ingin kuliah, ia ingin menjadi penulis, alhasil
ia menjadi penulis terkenal. Tak terbesit sedikit keinginan pun untuk melanjutkan
ke perguruan tinggi. Malah jalan yang ia pilih membuatnya menjadi terkenal. Bagaiamana
dengan Gusmus, apakah ia berhenti kuliah semata-mata hanya karena ingin menjadi
penulis? Menurut hemat saya tidak. Saya tidak melihat hal itu sebab Gusmuh
sendiri tidak hanya sekali masuk ke perguruan tinggi, melainkan dua kali. Ini
berarti ada keniatan. Saya rasa pergulatan inteletual Gusmus lah yang membuatnya
menghentikan studinya. Jika demikian, tidak ada sangkut pautnya antara niatan tidak
kuliah dan berhasil menjadi penulis.
Tidak ada jalan singkat untuk berhasil menjadi penulis,
meskipun seseorang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Menjadi penulis pun melewati
jalan panjang, Gusmus sendiri harus jatuh bangun, dihujat sana-sini hingga
kemudian tulisannya dikenal. Sedangkan Mili tak menunjukan hal itu, semua
berlangsung instan. Tak ditunjukan pula proses kreatifnya. Pembaca, penonton,
penikmat fiksi mesti cermat. Fiksi tetaplah fiksi, meskipun terdapat kebenaran
pada realitas fiksi. Jangan sampai ia memangkas logika dan menjebak kita dalam
realitas semu.