Setiap hari hanya bisa mengeluh. Saya hanya bisa begitu.
Terkadang, saya berpikir, kenapa si A bisa beruntung, si B apa lagi, dan si
C kehidupannya sempurna. Sedangkan saya?
Terus-menerus memupuk rasa kecewa didera kemiskinan dan yang terjadi perasaan iri semakin
lama semakin tajam.
Apa yang terjadi dengan saya? Apakah efek dari kelas lapisan
bawah? Dan berpikir hanya kelas bawah yang selalu punya masalah. Bagaimana
dengan lapisan atas? Apakah hanya tinggal landas tanpa masalah?
Peristiwa semalam telah membuka pikiran dan perasaan saya.
Kemudian mengubah paradigma saya, ternyata kelas bawah dan atas sama saja, punya masalah!
Namanya Putri, teman dari SMA yang masih bertahan sampai sekarang. Hidupnya serba kecukupan. Tidak ada yang kurang. Sehari-hari pergi
menggunakan mobil. Handphone selalu ganti sesuai dengan model terbaru. Busana
yang ia gunakan selalu berganti. Tidak seperti saya, yang hanya model-model itu
saja.
Putri, jujur, orang yang menyebalkan. Menjadi temannya
mungkin bukan urusan yang mudah. Kebanyakan orang yang berada di lapisan atas, untuk nongkrong rata-rata mesti di kafe. Kegiatan sehari-hari hanya jalan-jalan.
Untuk diajak berpikir, diskusi, memecahkan suata masalah bukanlah pekerjaannya.
Dia hanya berpikir, penting hidup enak. Belum lagi, sikap arogan dan
semena-mena yang bikin orang tambah muak. Tapi itu uniknya, saya suka berkumpul
dengan orang-orang menyebalkan.
---
“Lho, orang yang kerja itu gajinya segitu to dek? Lah, gaji
orang yang jungkir balik aja, sama uang jajanku lebih besar uang jajanku
sebulan”, terang Putri saat menirukan percakapan dengan mamahnya.
Saya hanya bisa senyum. Itu adalah hal yang biasa. Kalau
orang yang tidak mengenal Putri, mungkin terkagum-kagum. Cerita-ceritanya bisa
membuat orang terbang tinggi melayang. Terbawa angan-angan semu, membayangkan
bahwa hidup sedemikian mudah.
Namun, malam itu arah pembicaraan kami berubah ketika saya
bertanya “Kakakmu nggak ada yang kerja luar kota Put?”
Dia menjawab “ada”, tetapi katanya sudah kembali ke Semarang
karena orangtuanya meminta untuk kembali. Lanjutnya, mungkin memang kakaknya
terbiasa dengan hidup nyaman, enak, mapan, jadi ujung-ujungnya ya kembali ke
orang tua.
Tidak ada anggota keluarga Putri yang keluar dari Semarang.
Semuanya ada di sini, di Semarang. Muka Putri berubah menjadi datar. Ia sangat menyayangkan,
“Ya gitu, ujung-ujungnya minta. Kami sudah terbiasa hidup enak”. Putri seperti
menolak, ia seakan ingin pergi dari zona nyaman itu, namun ia sendiri terjebak
dan terkurung.
Putri menjadi sedih. Ia berada di zona nyaman, namun dalam
zona itu sendiri menyimpan ketidaknyamanan. Ia dininabobokan oleh keadaan.
Ingin beranjak, tapi dilematis. Dicukupi kebutuhannya, tapi harus menjadi anak
kuliahan yang tidak ada bedanya dengan anak kelas lima SD. Harus 'nurut' pada sikap kaku orang tua. Seperti contoh, di usianya yang
telah dewasa, ia ingin pergi hingga larut malam seperti kawan lainnya, namun harus
kembali sebelum jam sembilan malam. Tidak boleh ini itu, serba di larang.
Putri sangat ingin pergi, tapi ia seakan takut dicap sebagai
anak durhaka jikalau orangtuanya tak memberikan izin. Ia ingin pergi bekerja di
luar kota kelak, namun ia sendiri sadar bahwa ia lemah. Putri punya impian
besar. Ya, impian untuk keluar dari zona nyaman itu sendiri. Ia ingin bebas.
Malam itu saya tersadar. Benar-benar tersadar. Karena setiap
orang punya masalah. Putri memberikan pelajaran bahwa setiap orang harus memerdekakan
dirinya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar