Sabtu, 07 Desember 2013

Media Hari Ini



Dalam beberapa ujian untuk menjadi karyawan di industri media beberapa  waktu lalu, saya kerap kali dihadapakan pada pertanyaan “Bagaimana media saat ini?”. Sayangnya, pertanyaan yang harusnya dijawab dengan panjang lebar ini, malah muncul di form pendaftaran pada kolom dengan lebar  tidak lebih dari 10cm. Seharusnya, pertanyaan tersebut dimunculkan pada lembar soal ujian, dengan jumlah lembar jawaban yang banyak, guna mencari tahu bagaimana pemahaman pelamar tentang ‘media’ itu sendiri.

Untuk pertanyaan itu, saya sendiri belum cukup ahli untuk menjawabnya. Sesuai dengan kapasitas saya, mungkin saya akan melabeli argumen ini sebatas pada logika dan pemahaman. Tidak secara teoretis akademis.

Berkaitan dengan media, saya teringat dengan sosok Alvin Toffler dalam bukunya The Third Wave atau yang diterjemahkan menjadi Gelombang ke Tiga. Buku ini membahas perkembangan zaman, dari masa agrikultur (gelombang pertama), era industri (gelombang ke dua), sampai pada masa yang kita pijak saaat ini, masa komunikasi (gelombang ke tiga). Menurutnya, gelombang ke tiga yang secara langsung merupakan hasil dari perkembangan teknologi yang mengakibatkan manusia semakin cerdas. Ia beranggapan dengan perkembangan teknologi –Alvin Toffler merujuk pada komputer—membantu manusia mengembangkan ingatan kolektif manusia. Hal tersebut masuk akal karena, manusia sendiri memiliki ingatan yang terbatas. Dengan adanya komputer, ingatan tersebut mampu kembali disegarkan sebab komputer mampu menyimpan banyak data.

Jika dihubungkan dengan media saat ini—sebut saja internet dan beragam program yang ditawarkan—maka manusia pun harusnya semakin cerdas. Dengan asumsi bahwa internet mampu menyediakan data yang dibutuhkan manusia. Terlebih untuk saat ini. Informasi-informasi baru bisa muncul secepat kilat. Tidak heran jika kita sebuah media pun menggunakan nama detik untuk mengukuhkan bahwa media tersebut mampu menyediakan berita dalam hitungan detik. Apabila informasi yang muncul begitu cepat, sudah wajar kalau kita pasti akan dibuat geleng-geleng kepala, apalagi dengan membayangkan bagaimana kinerja, berapa jumlah wartawannya, terus bagaimana si wartawan dihadapkan dengan deadline untuk menyediakan secepat kilat? Dengan perasaan kagum dan terpukau, kita akan bilang “Wartawan hebat!”

Bagaimana dengan akurasi? Apabila saya dihadapkan pada pertanyaan demikian, jelas saya akan terdiam sejenak.  Saya harus mencari waktu untuk berpikir.  Lalu dengan senyum kaku saya akan menjawab “Tunggu dulu, mari diskusikan”. Sebagai alumni aktivis pers mahasiswa setidaknya saya mengerti bahwa ‘data’ merupakan bagian terpenting dari penulisan. Apabila seorang wartawan dituntut untuk menulis berita dengan cepat, bagaimana mungkin si wartawan mampu mencari data? Tidak hanya itu, bahkan untuk mewancarai informan satu, informan dua, informan tiga dan seterusnya memerlukan waktu tidak sedikit. Belum lagi checking, double checking, apalagi triple checking.  Rasanya, ini seperti banyolan seorang teman yang berkomentar tentang wartawan kilat dan berkata “mungkin pesawat yang belum jatuh, ditulis jatuh”. Tentu hal tersebut adalah hal yang lucu. Akurasi dalam berita ialah hal yang penting. Lagi-lagi saya ingat, di pengatar redaksi majalah Hayamwuruk dengan tema Jejak Kiri di Semarang bahwa William Shawn dari The New York Time sampai membentuk tim pengecek fakta (fact checking)  agar medianya tidak menuliskan berita yang abal-abal.

Sayangnya, masalah tidak berhenti hanya di situ. Masalah pun terus bermunculan. Di era internet, muncul sebuah trend jurnalisme yang dikenal sebagai jurnalisme warga atau citizen jurnalism. Jurnalisme warga menganggap bahwa setiap orang adalah seorang reporter. Asal mereka menganggap apa yang ditulis ialah sebuah berita, berarti itu diyakini sebagai berita. Sementara itu, saya sendiri pun ragu apakah setiap orang bisa menuliskan berita. Jangan-jangan yang mereka tulis hanya sebatas opini, asumsi, bahkan gosip. Titik ini lah yang mesti diwaspadai, karena yang menulis ialah  “seorang warga yang tak memiliki status” maka kita pun sulit menilai apakah bisa dipertanggungjawabkan atau tidak. Di tambah, jumlah tulisan yang banyak membuat mana yang berita, mana yang opini, dan gosip menjadi bercampur aduk tidak karuan karena sulit dikontrol. Mungkin, untuk orang yang memahami tidak masalah, bagaimana dengan orang awam?

Kekhawatiran saya pun bertambah, mengingat semakin cepatnya informasi yang diterima, semakin cepat pula berita yang diserap dan berita yang telah lalu cepat menjadi basi. Ini tentu sangat menakutkan karena berita jarang dibaca ulang, namun sudah terlanjur terserap. Saya hanya berharap, lebih baik bijak saat memilih berita, menimbang darimana sumber informasi itu didapatkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar