Dalam beberapa ujian untuk menjadi karyawan di industri
media beberapa waktu lalu, saya kerap
kali dihadapakan pada pertanyaan “Bagaimana media saat ini?”. Sayangnya,
pertanyaan yang harusnya dijawab dengan panjang lebar ini, malah muncul di form
pendaftaran pada kolom dengan lebar tidak lebih dari 10cm. Seharusnya, pertanyaan
tersebut dimunculkan pada lembar soal ujian, dengan jumlah lembar jawaban yang
banyak, guna mencari tahu bagaimana pemahaman pelamar tentang ‘media’ itu
sendiri.
Untuk pertanyaan itu, saya sendiri belum cukup ahli untuk
menjawabnya. Sesuai dengan kapasitas saya, mungkin saya akan melabeli argumen
ini sebatas pada logika dan pemahaman. Tidak secara teoretis akademis.
Berkaitan dengan media, saya teringat dengan sosok Alvin
Toffler dalam bukunya The Third Wave atau
yang diterjemahkan menjadi Gelombang ke Tiga.
Buku ini membahas perkembangan zaman, dari masa agrikultur (gelombang pertama),
era industri (gelombang ke dua), sampai pada masa yang kita pijak saaat ini,
masa komunikasi (gelombang ke tiga). Menurutnya, gelombang ke tiga yang secara
langsung merupakan hasil dari perkembangan teknologi yang mengakibatkan manusia
semakin cerdas. Ia beranggapan dengan perkembangan teknologi –Alvin Toffler
merujuk pada komputer—membantu manusia mengembangkan ingatan kolektif manusia.
Hal tersebut masuk akal karena, manusia sendiri memiliki ingatan yang terbatas.
Dengan adanya komputer, ingatan tersebut mampu kembali disegarkan sebab
komputer mampu menyimpan banyak data.
Jika dihubungkan dengan media saat ini—sebut saja internet dan
beragam program yang ditawarkan—maka manusia pun harusnya semakin cerdas.
Dengan asumsi bahwa internet mampu menyediakan data yang dibutuhkan manusia.
Terlebih untuk saat ini. Informasi-informasi baru bisa muncul secepat kilat. Tidak
heran jika kita sebuah media pun menggunakan nama detik untuk mengukuhkan bahwa
media tersebut mampu menyediakan berita dalam hitungan detik. Apabila informasi
yang muncul begitu cepat, sudah wajar kalau kita pasti akan dibuat
geleng-geleng kepala, apalagi dengan membayangkan bagaimana kinerja, berapa
jumlah wartawannya, terus bagaimana si wartawan dihadapkan dengan deadline untuk menyediakan secepat
kilat? Dengan perasaan kagum dan terpukau, kita akan bilang “Wartawan hebat!”
Bagaimana dengan akurasi? Apabila saya dihadapkan pada
pertanyaan demikian, jelas saya akan terdiam sejenak. Saya harus mencari waktu untuk berpikir. Lalu dengan senyum kaku saya akan menjawab “Tunggu
dulu, mari diskusikan”. Sebagai alumni aktivis pers mahasiswa setidaknya saya
mengerti bahwa ‘data’ merupakan bagian terpenting dari penulisan. Apabila seorang
wartawan dituntut untuk menulis berita dengan cepat, bagaimana mungkin si
wartawan mampu mencari data? Tidak hanya itu, bahkan untuk mewancarai informan
satu, informan dua, informan tiga dan seterusnya memerlukan waktu tidak
sedikit. Belum lagi checking, double
checking, apalagi triple checking.
Rasanya, ini seperti banyolan seorang
teman yang berkomentar tentang wartawan kilat dan berkata “mungkin pesawat yang
belum jatuh, ditulis jatuh”. Tentu hal tersebut adalah hal yang lucu. Akurasi dalam
berita ialah hal yang penting. Lagi-lagi saya ingat, di pengatar redaksi
majalah Hayamwuruk dengan tema Jejak Kiri di Semarang bahwa William Shawn
dari The New York Time sampai
membentuk tim pengecek fakta (fact
checking) agar medianya tidak
menuliskan berita yang abal-abal.
Sayangnya, masalah tidak berhenti hanya di situ. Masalah pun
terus bermunculan. Di era internet, muncul sebuah trend jurnalisme yang dikenal
sebagai jurnalisme warga atau citizen
jurnalism. Jurnalisme warga menganggap bahwa setiap orang adalah seorang
reporter. Asal mereka menganggap apa yang ditulis ialah sebuah berita, berarti
itu diyakini sebagai berita. Sementara itu, saya sendiri pun ragu apakah setiap
orang bisa menuliskan berita. Jangan-jangan yang mereka tulis hanya sebatas
opini, asumsi, bahkan gosip. Titik ini lah yang mesti diwaspadai, karena yang
menulis ialah “seorang warga yang tak
memiliki status” maka kita pun sulit menilai apakah bisa dipertanggungjawabkan
atau tidak. Di tambah, jumlah tulisan yang banyak membuat mana yang berita,
mana yang opini, dan gosip menjadi bercampur aduk tidak karuan karena sulit
dikontrol. Mungkin, untuk orang yang memahami tidak masalah, bagaimana dengan
orang awam?
Kekhawatiran saya pun bertambah, mengingat semakin cepatnya
informasi yang diterima, semakin cepat pula berita yang diserap dan berita yang
telah lalu cepat menjadi basi. Ini tentu sangat menakutkan karena berita jarang
dibaca ulang, namun sudah terlanjur terserap. Saya hanya berharap, lebih baik
bijak saat memilih berita, menimbang darimana sumber informasi itu didapatkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar