Senin, 16 Desember 2013

Waktu Ialah Ingatan


Bersyukur, kakak saya, Afika Febriyani sudah melahirkan anak. Perempuan jenis kelaminnya. Ini berarti lengkap sudah kehidupan rumah tangganya sejak kakak memutuskan untuk berkeluarga. Ini berarti juga, rasa sedih karena kehilangan anak laki-laki telah terobati dengan datangnya si bayi. Kakak memang sebelumnya telah memiliki anak, namun, anak itu meninggal karena keluar tidak pada waktunya.

Kakak memutuskan untuk hidup berkeluarga di tempat asal suaminya, di Boja. Setelah mendengar kabar kelahiran saya langsung ke Boja untuk melihat si bayi. Ketika di sana, saya pandangi si bayi, lucunya bukan main. Si bayi hanya bisa menguap dan mengolet. Kulitnya masih merah. Matanya pun belum terbuka lebar.

Kelahiran si bayi menandai bahwa saya sudah resmi menjadi paman. Bapak dan ibu juga resmi menjadi kakek dan nenek. Tanpa terasa, waktu telah berjalan dengan sangat cepat. Dan waktu telah menyita memori dari tiap-tiap ingatan yang berharga. Teringat, dulu saat saya dan kakak masih kecil. Kami berdua sering bermain bersama. Kadang kami juga bertengkar. Saat di sekolah kakak juga sering membela jika saya bertengkar dengan orang lain. Kakak selalu ada jika saya sedang dalam masalah. Itu dahulu. Kini, ia telah berkeluarga. Dan dalam hati, saya rindu masa-masa itu. Bahkan sangat rindu.

Saat saya pandangi si bayi dalam-dalam saya tersadar. Kami bedua telah dewasa. Kami akan mengarungi hidup kita masing-masing. Ya, si bayi juga mengingatkan, jika tak lama lagi saya juga harus hidup dengan keluarga saya sendiri. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar