Bersyukur, kakak saya, Afika Febriyani sudah melahirkan
anak. Perempuan jenis kelaminnya. Ini berarti lengkap sudah kehidupan rumah
tangganya sejak kakak memutuskan untuk berkeluarga. Ini berarti juga, rasa
sedih karena kehilangan anak laki-laki telah terobati dengan datangnya si bayi.
Kakak memang sebelumnya telah memiliki anak, namun, anak itu meninggal karena
keluar tidak pada waktunya.
Kakak memutuskan untuk hidup berkeluarga di tempat asal
suaminya, di Boja. Setelah mendengar kabar kelahiran saya langsung ke Boja untuk
melihat si bayi. Ketika di sana, saya pandangi si bayi, lucunya bukan main. Si bayi
hanya bisa menguap dan mengolet. Kulitnya masih merah. Matanya pun belum
terbuka lebar.
Kelahiran si bayi menandai bahwa saya sudah resmi menjadi
paman. Bapak dan ibu juga resmi menjadi kakek dan nenek. Tanpa terasa, waktu
telah berjalan dengan sangat cepat. Dan waktu telah menyita memori dari
tiap-tiap ingatan yang berharga. Teringat, dulu saat saya dan kakak masih
kecil. Kami berdua sering bermain bersama. Kadang kami juga bertengkar. Saat
di sekolah kakak juga sering membela jika saya bertengkar dengan orang lain. Kakak
selalu ada jika saya sedang dalam masalah. Itu dahulu. Kini, ia telah
berkeluarga. Dan dalam hati, saya rindu masa-masa itu. Bahkan sangat rindu.
Saat saya pandangi si bayi dalam-dalam saya tersadar. Kami bedua
telah dewasa. Kami akan mengarungi hidup kita masing-masing. Ya, si bayi juga
mengingatkan, jika tak lama lagi saya juga harus hidup dengan keluarga saya
sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar