Sabtu, 07 Desember 2013

Terus Berjuang


Jakarta bukan lah tempat yang ramah. Tentu, sebagian orang tahu dan memahami itu. Terlebih lagi untuk para pendatang. Di Jakarta, setiap orang sibuk untuk bekerja. Mereka sangat serius, terlihat dari raut mukanya yang kerap kali mengerut. Jika pun mereka tersenyum, mungkin karena mereka berusaha untuk menghibur dirinya sendiri. Atau bisa saja, mereka hanyalah seorang selles yang menjual keramahan pada penjual.

Ya, sekali lagi saya katakan, Jakarta bukan lah kota yang ramah, kota itu benar-benar sibuk. Jarang sekali terlihat jalan-jalan yang lengang, karena macet adalah sesuatu yang dpisahkan dari kota ini. Mereka, penduduk Jakarta, melakukan berbagai aktivitas. Bekerja, kuliah, mencuri, merampok, dan lain sebagainya. Mereka hilir mudik, ke sana-ke mari, riwa-riwi di jalan-jalan Jakarta. Bukan riwa-riwi, karena mereka menghabiskan kegiatannya berhenti di satu titik yakni jalan raya. Bagaimana mungkin mereka akan ke sana- ke mari jika jalan disesaki oleh banyak kendaraan?

Jangan mengharapkan belas kasihan dengan orang Jakarta. Karena mereka lebih memilih untuk mengasihi diri mereka sendiri. Saya melihatnya secara langsung. Saat berada di halte bus Trans Jakarta, seorang ibu-ibu didorong penumpang lain yang kebanyakan masih muda. Sampai si ibu berteriak karena kesakitan, namun tak ada yang menggubrisnya. Banyak dari para penumpang itu memilih untuk menyelamatkan diri supaya sampai di rumah atau kost lebih cepat. Sebab, waktu adalah harga yang mahal. Menjaga diri sendiri lebih penting daripada mengkhawatirkan orang lain.

Namun, Jakarta ialah kota yang menawarkan banyak mimpi dan harapan. Meskipun sulit sekali untuk mewujudkan mimpi tersebut. Ini adalah stigma umum bahwa Jakarta kerap kali menawarkan pekerjaan yang laik dengan upah yang tinggi. Saya akan menjadi sangat munafik jika menampik stigma tersebut. Karena saya sendiri tergiur dengannya. Akan tetapi, saya tidak akan berpikir sependek itu. Bukan berarti yang berhubungan dengan Jakarta ialah sesuatu yang sifatnya material. Seperti yang saya katakan tadi, Jakarta bukanlah kota yang ramah, tapi bisa dikatakan kejam. Meski begitu, bukankah dari ketidakramahan Jakarta, saya bisa mendapatkan keindahan? Keindahan berupa ilmu yang saya sebut sebagai ilmu tentang kehidupan. Itu lah yang ingin saya cari. Jadi, jangan heran, jika saya sangat ambisius untuk hidup di kota ini.

Dua motif itu lah sebagai motor penggerak saya saat ini, pekerjaan dan ilmu kehidupan. Sehingga, banyak cara  telah saya wujudkan. Mencari pekerjaan sampai pada empat kali ujian di industri media, meskipun sampai sekarang belum ada hasil. Rasa pesimis tentu menjadi penghias dari usaha saya ini. Kegagalan yang datang secara bertubi-tubi. Ditambah, keadaan keuangan yang memburuk karena banyak biaya yang keluarga keluarkan untuk membiayai perjalanan dan hidup saya di Jakarta. Tak jarang, orangtua sampai buka lubang, tutup lubang, dan buka lubang kembali. Orang tua sempat menyarankan agar sementara mencari pekerjaan di Semarang. Dengan banyak pertimbangan, saya menolak dalam hati, dengan alasan karena resign tidaklah gratis. Saya tetap keras hati untuk berusaha mengejar Jakarta. Menurut saya, bagaimanapun, pekerjaan di tempat yang tidak sepenuh hati disukai hanya akan melahirkan kesia-siaan.

Rasa pesimis yang semakin mengakar tidak serta merta hanya membawa saya pada perasaan bersalah. Jauh dari itu. Perasaan itu menyadarkan saya, bahwa saya hanyalah makhluk kecil di hadapan Tuhan. Makhluk yang sebelumnya mencari kebenaran dengan mengkritisi dogma-dogma Tuhan, jauh dari Tuhan, seolah batin saya melakukan counter attack. Saya seolah-olah menjadi makhluk yang paling dekat dengan Tuhan. Makhluk yang mengharap belas kasihan dari Tuhan. Senantiasa berdoa dan sembahyang agar keinginan segera terkabul. Semoga saya bukan menjadi bagian manusia yang oportunis. Amin.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar