“Turut berduka, maha berduka cinta” balas saya ketika
mendapat pesan singkat dari seorang kawan yang memberi kabar kalau Prof.
Soedjarwo atau biasa dipanggil Prof. Djarwo meninggal dunia. Memang tidak
terlalu mengagetkan karena sebelumnya saya telah mendapatkan kabar jika ia
sudah sakit. Ditambah usianya yang memang tak lagi muda. Namun, saya heran –mungkin
cukup berlebihan— kepergiannya seolah mengiringi kepergian sosok Nelson
Mandela. Kepergian sosok yang anti apartheid belum lama ini. Prof. Djarwo
memang tidak terkenal seperti Mandela. Ia hanyalah seorang sosok yang sangat
sederhana. Karena kesederhanaannya itu, ia memberikan arti bagi orang yang
mengenalnya. Baik keluarganya, sahabatnya, juga murid-muridnya termasuk saya.
Mendengar kabar itu, saya bergegas pergi ke makam.
Dengan harapan, bisa melihatnya untuk terakhir kali. Juga mengiringi kepulangannya
ke peristirahatan yang abadi sebagai tanda hormat dan bakti kepada mendiang.
Awan gelap mengiringi prosesi pemakaman waktu itu (8/12),
sesekali diselingi oleh hujan rintik. Pemakaman berlangsung sendu, para pelayat
yang bisa dikatakan tidak terlalu banyak merasa kehilangan sosok Prof
Djarwo. Itu terlihat dari raut muka mereka. Saya pun demikian, terlebih Prof.
Djarwo ialah sosok yang mencintai pendidikan. Ya, bahkan sampai akhir hayatnya.
Hingga peristirahatan terakhirnya pun adalah tempat di mana ia mengajar,
pemakaman Universitas Diponegoro.
Selamat jalan Prof.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar